Kajian Islam • 19 Oct 2026 • 4 Menit Baca

Bencana Dalam Nalar Psikologi Agama

Bencana Dalam Nalar Psikologi Agama
"Maka masing-masing Kami binasakan dengan sebab dosanya, yaitu di antaranya ada yang Kami hantarkan angin ribut menghujaninya dengan batu; dan ada yang dibinasakan dengan letusan suara yang menggemparkan bumi; dan ada yang Kami timbunkan dia di bumi; dan ada pula yang Kami tenggelamkan di laut. Dan (ingatlah) Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri. (AI-Ankabut 29:40)

Bencana adalah suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa—yang dipicu oleh kekuatan alam, tindakan manusia, atau kombinasi keduanya—yang mengakibatkan kerugian besar terhadap nyawa manusia, ekosistem, dan aset. Bencana dapat berupa gempa bumi, banjir, tanah longsor, kekeringan, atau kebakaran hutan, maupun peristiwa yang disebabkan oleh manusia, seperti kecelakaan industri atau tindakan terorisme. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mendefinisikan bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat—yang disebabkan oleh faktor alam, nonalam, maupun faktor manusia—sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, serta dampak psikologis (Hidayat, 2022:5).

Menurut mafhum ayat diatas, bencana alam yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan proses kehancuran yang terjadi akibat diri manusia itu sendiri. Muhammad Rasulullah saw, telah meberitakan bahwa; “apabila bumi menghampiri kemusnahan yaitu hari kiamat”, bencana alam akan sering terjadi. Hal ini terbukti apa yang terjadi di Sumatra Barat, Kalimantan, Sumatra Utara dan Aceh serta di beberapa belahan dunia lainnya, abaik berupa banjir, gunung meletus, kebakaran hutan sehingga menimbulkan asap dan lainnya.

Indonesia termasuk salah satu negara yang paling rentan terhadap bencana. Posisi negara ini di kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) membuatnya rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi yang sering terjadi. Selain itu, bencana hidrometeorologi—seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan—juga kerap melanda berbagai wilayah. Dalam kondisi seperti ini, diperlukan inisiatif pendidikan yang signifikan untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana di kalangan masyarakat.

Dalam budaya Islam, bencana alam senantiasa dipandang sebagai suatu musibah. Saat bencana melanda, seseorang cenderung lebih sering menyebut nama Tuhan dibandingkan dalam situasi normal. Ketika menghadapi bencana, ucapkanlah: "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un" (QS 2:156). Dalam kondisi ini, seseorang secara psikologis menyandarkan diri sepenuhnya—dengan segala keterbatasannya—kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jiwa mendorong manusia untuk mengakui keagungan Tuhan di atas segalanya. Penghayatan manusia cepat hadir dengan segala keyakinannya bahwa dirinya adalah mahkluk kecil yang membutuhkan pertolongan Tuhan.

Psikologi agama yang dibahas dalam artikel ini berfungsi mengarahkan jiwa dalam sebuah perjalanan menuju tataran yang lebih tinggi, yakni esensi agama—sebuah realitas yang menghadirkan nilai-nilai spiritual inti sekaligus memberikan panduan praktis (Komaruddin Hidayat, 2006). Psikologi membantu kita mengenali kekacauan dalam emosi, pikiran, dan tindakan—suatu kondisi yang menuntut pemahaman dan solusi—sementara agama menyediakan jalan untuk melangkah maju. Dalam konteks ini, iman hadir sebagai sebuah lompatan sekaligus keputusan yang melampaui kesimpulan logis maupun kemampuan akal, bergerak menuju ranah yang bersifat supra-rasional dan transendental.

Dari sudut pandang psikologis, menghadapi suatu bencana tampaknya dapat meningkatkan kesadaran dan kepekaan seseorang dalam merenungkan pengalaman yang dialaminya. Hal ini dapat dengan mudah mendorong tumbuhnya kesadaran diri—terutama jika peristiwa tersebut tergolong signifikan, merugikan, atau memberikan dampak buruk bagi individu yang bersangkutan.

Kurangnya kesadaran terhadap bencana dan keadaan darurat mencerminkan tingkat internalisasi nilai-nilai keagamaan yang masih dangkal dalam diri seseorang.

Berikut ini, penulis menyajikan berbagai strategi psikologis yang dapat meningkatkan kesadaran diri saat menghadapi bencana:

Pertama, Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT
Mendekatkan diri kepada Allah (SWT) merupakan upaya spiritual yang melibatkan pengembangan hubungan yang lebih kuat dan mendalam dengan Sang Pencipta—sebuah proses yang diyakini dapat meningkatkan ketenangan batin (jiwa) serta kesehatan emosional.

Pendekatan ini sering dipandang sebagai cara untuk memperkuat iman dan spiritualitas, yang mencakup praktik ibadah sehari-hari maupun upaya yang lebih luas dalam pengembangan diri. Kesehatan holistik—yang mencakup aspek fisik dan spiritual—menandakan suatu kondisi keseimbangan yang melampaui ranah fisik, serta mencakup tercapainya keseimbangan mental, emosional, dan sosial. Dalam tradisi Sufi, hal ini disebut sebagai taqarrub.

Menurut Al-Ghazali, mendekatkan diri kepada Allah atau taqarrub adalah penyucian hati dari segala sesuatu selain Allah. Jika hati telah suci, maka Allah akan hadir bersama hamba tersebut, karena tidak ada lagi hijab (penghalang) antara hamba dan Allah. Kedekatan ini bukan kedekatan tempat, melainkan kedekatan sifat dan hati, yakni manifestasi sifat-sifat Allah dalam diri manusia sehingga melahirkan rasa cinta kepada Allah (mahabbah).

Tujuan Allah menciptakan manusia semata-mata agar mereka mengabdi dan memuliakan-Nya. Manusia juga diciptakan sebagai khalifatul fil ardhi (pemimpin di muka bumi). Pada awal penciptaan manusia—tepatnya saat penciptaan Adam—Allah menunjukkan keistimewaan manusia dengan memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud kepada mereka; namun, karena kesombongannya, golongan jin menolak untuk bersujud kepada manusia. Sejak peristiwa ini manusia selalu diajak oleh iblis untuk menjauhi Tuhannya.

Apa Reaksi Anda?

Bagikan:
Kembali ke Arsip
Baca Artikel

Artikel Terkait

Diskusi (0)

Belum ada diskusi untuk artikel ini. Mari mulai percakapan!

Tinggalkan Jejak ✍️

Verifikasi Keamanan

Buktikan Anda bukan robot dengan menjawab ini:

3 + 6 = ?